Jelajah Tana Loro Sae - Timor Leste. Masjid An Nur Simbol Toleransi.
- Takdir Ishak
- 3 Jun 2024
- 3 menit membaca

Dili - Timor Leste, 26 Mei 2024:
Masjid An Nur Dili merupakan sebuah masjid yang terletak di Rua de Campo Alor (Jalan Kampung Alor) kota Dili, Timor Leste. Masjid ini dibangun pada tahun 1955 atas inisiatif Imam Haji Hasan Bin Abdulah Balatif Kepala Kampung Alor dan masyarakat muslim Dili. Pembangunan ini direstui oleh Kepala Suku Arab Yaman saat itu, Hamud bin Awad Al-Katiri. Di sepanjang jalan menuju masjid terdapat kios jualan warga sekitar. Menurut keterangan salah satu pengurus masjid, 90 persen dari pemilik kios-kios pakaian itu berasal daerah luar timor Leste Selain produk sandang terdapat juga beberapa rumah makan dan gerobak yang menjajakan makanan seperti yang ada di Indonesia khas seperti, masakan padang, bubur ayam, ayam bakar, aneka gorengan, aneka olahan mie dan bakso.
restorante Ghandewa Arjuna merupakan salah satu tempat makan halal yang berada tepat berada di depan masjid An Nur dengan harga makanan yang terjangkau kisaran $1-$3. hal ini tentunya menjadikan restorante Ghandewa Arjun tidak pernah sepi dari pengunjung terutama setelah abis salat Duhur dan Isya, pengunjungnya sangat ramai dari kalangan muslim maupun non muslim. Untuk sesaat penulis lupa sedang berada di luar negeri. Ketika Timor Leste berada di bawah pendudukan Portugis, masyarakat Kampung Alor menjadikan masjid An Nur ini sebagai salah satu tempat perjuangan politik untuk mengusir Portugis. Tokoh-tokoh muslim Timor Timur seperti Haji Salim Bin Said Al-Katiri, Hedung Bin Abdullah dan Sya’ban Joaqim meminta bantuan rakyat dan juga kepada pemerintah Indonesia.
(Beberapa tokoh agama Timor Leste)
Masjid yang pernah direnovasi oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen Dading Kalbuadi pada tanggal 20 Maret 1981 ini terdiri atas dua lantai, lantai bawah sebagai tempat salat, sementara lantai atas menjadi ruang sekolah. Di bagian tengah masjid terdapat ruang terbuka, yang membuat masjid sangat nyaman untuk dijadikan tempat ibadah maupun istirahat sejenak karena kebersihan dan hembusan angin yang senantiasa mengipasi jemaah masjid. Suasana damai ini ditambah suara anak-anak kecil yang saling bersahutan melantunkan ayat suci Alquran. Tempat ini benar-benar bagai oase di tengah gurun. Ustaz atau para pengajar di masjid ini mayoritas berasal dari Indonesia. Meskipun kebanyakan pengurus masjid ini pendatang, imam masjid An Nur sendiri adalah penduduk asli Timor Leste. Sang imam merupakan lulusan salah satu universitas islam paling terkenal di dunia, yaitu Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Meskipun menjadi minoritas di negeri yang 90 persen beragama Katolik, umat Islam di Timor Leste hidup dengan normal dan aman. Hal ini dikaitkan dengan kepedulian pemerintah untuk membangun taman toleransi yang berada tepat di depan masjid An Nur.
Kebebasan menjalankan ibadah umat Islam juga terlihat saat ibadah salat Jumat yang selalu dipenuhi oleh jemaah. Khutbah salat Jumat selalu menggunakan bahasa Indonesia karena mayoritas jemaah berasal dari Indonesia. Di negara yang berbahasa resmi Tetun dan Portugis ini penggunaan bahasa Indonesia masih sangat melekat di kehidupan warga. Hal ini disebabkan tidak hanya karena negara ini pernah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga karena budaya-budaya pop Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Timor Leste. Hal ini karena sebagian besar siaran TV yang sering diputar masyarakat disana adalah siaran TV dari Indonesia. Sebutkan saja judul-judul sinetron, penyanyi-penyanyi atau artis yang sedang populer saat ini, kemungkinan besar mereka akan mengenalinya. Selain itu, menurut undang-undang negara Timor Leste pada Bagian VII mengenai Ketentuan-ketentuan Akhir dan Sementara Pasal 159 bahasa Indonesia merupakan bahasa yang diakui sebagai bahasa kerja. Jadi, bagi siapapun terutama yang beragama muslim tidak perlu lagi khawatir untuk bepergian ke negara ini. Timor Leste memang luar negeri berasa dalam negeri.
Comments